Untukmu Si Biang Luka

Untukmu Sang Biang Luka

Bayangmu adalah neraka dan surgaku. Aku mencintainya, pun aku membencinya. Dia kerap kali membawa luka yang menggores dalam. Meski tak dapat kupungkiri, dia telah menjadi warna dan rumah dari setiap rinduku. Aku tak pernah mengerti, mendengar namamu saja rinduku selalu bertumpah ruah.

Senyummu adalah candu memabukkan. Entah sejak kapan, aku mulai mencandui pahatan senyummu. Terlampau indah, mengalahkan langit, bulan, bintang, pun rona jingga yang dulu biasa kupuja. Bahkan rinai hujan, dia hanya bisa menjadi teman ku berbagi rindu. Argh, senyummu selalu memabukkan.

Kamu adalah defenisi dari rindu tak terbendung. Namamu adalah tujuan dari segala asa yang tertanam di dalam sana. Sayangnya, kamu pun potret dari serpihan luka yang luar biasa.

Kamu adalah pembentuk dari semua ukiran-ukiran merah di tiap sudut hatiku. Kamu merombak, kamu menghancurkan tatanannya, kamu meremukan setiap tetes darah di dalamnya, kamu mematikan hatiku dalam sekejap. Kamu, si penghancur asa terhebat.

Aku meragukan ingatanmu tentang saat pertama kali kamu menghampiriku dengan membawa sejuta ungkapan memuja. Setiap karya kata yang lahir dari mulut manismu selalu berhasil meluluhkanku. Kamu menyihirku, tak hanya hati, tetapi seluruh jiwaku. Aku menjatuhkan diriku dengan begitu gila. Ah, bahkan masih jelas terpatri dalam ingatan, kala kamu menautkan jari mengucap janji untuk selalu mencinta dengan setia. "Kujaga hatimu, selalu" kalimat indah yang melintas dari bibir indah sang pejanji setia, bahkan aku tak bisa lupa.

Bagaimana perasaanmu setelah meminta hati pada gadis yang selalu kamu panggil manis untuk kamu jaga namun akhirnya kamu kembalikan dalam keadaan terluka? Sungguh, kamu ialah sang pematah hati terbaik.

Kamu menanamkan begitu banyak benih cinta di dalam relung hatiku. Sampai sekarang, aku masih tak tahu apa tujuanmu. Mungkinkan agar tak ada lagi tempat untuk cinta yang lain?
Jika demikian, kamu sudah berhasil. Benih-benih kasih yang pernah kau tanam dulu tumbuh subur dan tak pernah ingin mati. Akarnya tertancap begitu dalam, ya?
Kamu, petani cinta terhebat yang pernah ada.

Setelah banyak hal yang kita lalui bersama, kamu tiba-tiba ingin pergi membawa semua harapan yang pernah ada. Semua asa yang telah kita juangkan bersama kau bawa serta tanpa memandang iba pada aku yang terluka parah.

Lalu bagaimana, harus kuapakan harapan yang telah telanjur kutanam? Haruskah kubiarkan menjalar tanpa arah atau kubakar saja agar dia tak terus mendamba? Ketahuilah, hasilnya pun tetap sama. Aku yang hancur.

Aku tak ingin menutup mata terhadap semua yang sudah terjadi. Aku tahu, kamu pergi bukan untuk kembali lagi. Kamu menemukan mimpimu yang baru dan menanamkan asa pada ladang cintamu yang lain. Namun hatiku enggan menyerah. Dia tetap setia merawat semua asa yang dulu kau tanam. Bahkan sekarang, pena aksara ini dia goreskan dengan darah. Dia begitu bodoh.

Aku tak tahu lagi harus menulis tentang apa. Rinduku tak dapat kulukiskan dalam pena lukaku. Sementara suaraku, dia tak punya cukup nyali untuk berterus terang padamu. Aku hanya ingin kamu tahu,  setelah kepergianmu, aku masih belum berubah. Hatiku masih menjadi ladang milikmu. Kumohon, pulanglah! Aku dan segenap jiwaku merindukanmu.
Aku membutuhkan dekapmu.

Salam, dari seseorang yang hatinya pernah kau bunuh

#Wym

Komentar